Minggu, 14 Januari 2018

My First Assignment of Journalism Lesson


OSCAR (Orientasi Studi Cinta Almamater) 2017 di Kampus Cinta
            Jombang – Kegiatan Orientasi Studi Cinta Almamater (OSCAR) Unipdu 2017 yang diadakan oleh Universitas Pesantren Tinggi DarulUlum (UNIPDU) Peterongan Jombang telah resmi dibuka oleh bapak RektorUnipdu, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA, pada upacara pembukaan OSCAR UNIPDU 2017 di Plaza Unipdu, Sabtu pagi (17/09/17). Ada sekitar 460 mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan Oscar bertujuan untuk memperkenalkan lingkungan dan suasana kampus kepada mahasiswa/I baru.

            Menurut Astri Nur Aini, salah seorang mahasiswi baru Fakultas Agama Islam, Oscar merupakan kegiatansemacam pengenalan kampus dimana kita diperkenalkan dengan wilayah kampus agar kita mengetahui bagaimana keadaannya. Banyak kegiatan yang dilakukan pada saat Oscar yakni pengenalan kampus utama, kampus gedung A dan kampus gedung B, Graha, Rektorat, Rumah Sakit Unipdu Medika dan tempat-tempat yang ada di dalam pondok pesantren Darul Ulum. Ada kegiatan-kegiatan islami seperti istighotsah, sholat berjama’ah, sholat dhuha (program kegiatan Oscar Fakultas Agama Islam) dan ada  juga kegiatan Oscar lain, misalnya pentas seni, outbond dan malam inagurasi.

            Menurut dia, hal yang paling berkesan saat Oscar adalah puncak malam inagurasi.Pada malam tersebut meliputi beberapa kegiatan malam seperti jelajah malam, menyalakan api unggun, menyalakan lilin dan menyalakan kembang api. Sehingga acara tersebut menjadi meriah.
“Dari semua kegiatan Oscar yang saya ikuti sejak awal kegiatan sampai hari ini, hal yang paling membuat saya terkesan adalah malam ini. Saya sangat senang karena sudah tidak ada lagi Komdis (KomisiKedisiplinan) yang membuat kami tegang. Oscar Unipdu 2017 memang keren”,ucapnya. (Bibil/FBS)

Kamis, 04 Januari 2018

#KarenaIbu, Aku Mengalahkan Egoku

Egoku Memudar Karena Ibu

Selama kuliah, aku diliputi banyak keraguan. Aku tidak yakin dengan diriku sendiri. Aku merasa tidak mampu untuk menyelesaikannya. Tidak hanya itu saja, faktor keluarga pun menjadi faktor utama yang membuat aku semakin ingin memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Banyak pertimbangan jika aku harus melanjutkan kuliah. Disini, aku merupakan anak pertama yang harus menjadi teladan bagi kedua adikku, dan disisi lain aku ingin bekerja untuk melunasi hutang-hutang ibuku. Ibuku banyak hutang karena membantu memenuhi kebutuhan untuk kuliahku. Walau aku memiliki orang tua yang lengkap, terkadang aku merasa seperti tinggal bersama ibuku saja yang selalu memenuhi kebutuhan kuliah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kehidupanku bukan layaknya kehidupan keluarga yang lain. Oleh sebab itu, kondisi yang seperti ini yang membuatku semakin dilema.
Disaat aku masih duduk di semester 3, aku bingung harus bagaimanakah diriku seharusnya. Aku mulai dilanda rasa bimbang, ingin menyerah, hingga pada akhirnya banyak mata perkuliahan yang aku tinggalkan. Namun, ibu tidak mau aku menyerah begitu saja. Ibu tetap mencarikanku biaya untuk keperluan kuliahku. Aku tidak tega jika ibuku harus terus menerus mencari pinjaman uang kesana-kemari. Ibu juga selalu mendapat cacian dan makian.

"Ya Allah, ringankanlah beban ibuku. Aku tidak ingin membuatnya semakin terbebani atas diriku".

Setiap malam, aku hanya bisa menangisi ibuku. Sungguh begitu besar pengorbanannya. Aku merasa berdosa sekali. Aku belum bisa meringankan bebannya.

Nora dan Mama

Pesan yang selalu ibu sampaikan padaku adalah, 

Jangan gampang berputus asa ya, sayang. Dengan Allah ngasih kamu cobaan, itu tandanya Allah sayang sama kamu. Jangan pernah putus doanya, selalu dahulukan kepentingan Allah karena Allah pasti akan mendahulukan kepentingan kita juga. Jika kamu selalu merayu Allah lewat doa-doamu, insyallah, Allah akan mengabulkan segala yang kamu butuhkan. Yakin dan percaya itu.

Nasehat itu yang selalu membuatku ingin menjerit dan mengatakan bahwa aku benar-benar belum menjadi cerminan dari dirinya.

"Sudahlah sayang. Jalani aja dulu, kamu pasti bisa kok. Lakukan itu demi mama dan kedua adikmu, ya".

Di sepertiga malam, ibu mengajakku bermunajat kepadaNya. Aku menumpahkan segala keluh kesahku terhadapNya. Aku merasa menemukan titik terang atas beban-bebanku selama ini. Namun, tetap saja aku tak bergairah melanjutkan kuliahku. Tetapi, ibu tidak ada henti-hentinya mendorongku untuk terus maju, maju dan terus maju. Lambat laun, kegigihan ibuku yang selalu mendorongku untuk melanjutkan kuliah, aku mulai tergugah untuk kembali meneruskannya. Akhirnya, rasa bimbangku terkalahkan oleh kegigihan ibuku dalam memberiku dukungan. 

Terimakasih mama, karenamu aku mampu mengalahkan egoku. Aku menyayangimu.




#saliha #karenaibu #kompetisiblogsaliha

Rabu, 03 Januari 2018

I Wanna Stop !

Beberapa hari, hati dan pikiran udah kacau. Otak kaga bisa nampung apapun, hati apalagi. Beban di otak udah hampir meluber, mau meledak kayak gunung lautan api. Bawaan emosi mulu. Gue pasang sikap dingin. Senyum pun gue bandrol mahal. Hipertensi pasti sedang menanti gue dengan senyuman manis. Aaarrgghh, shit. Persetan dengan masalah seperti ini. 

Image by Levy Raihan Rafly

Diri kaga terurus. Makan apapun serasa nelan duri. Tugas dunia kaga terjamah, bahkan ada yang gue tinggalin gitu aja. Terserah, apa kata dunia. Maki-maki aja gue sesuka hati. Karena kalian pada kaga tau gimana kondisi otak dan pikiran gue. Keinginan gue pun kaga pernah ada yang mau ngerti. Fix, gue ngga peduli dengan itu. 

Senin, 01 Januari 2018

"Kota Santri" Ponpes Darul Ulum

 Kota santri merupakan tempat berkumpulnya para pedagang dari berbagai daerah yang menjual aneka macam makanan dan kebutuhan sehari-hari para santri. Kota santri bukanlah kota besar, melainkan sebuah tempat dimana ada sebuah pendopo yang dikelilingi oleh banyaknya pedagang kaki lima dan toko-toko yang berderet disepanjang jalan. Kota santri berada didalam area, tepatnya ditengah-tengah Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Pedagang kaki lima mulai menjajakan dagangannya dari pagi hingga sore hari,  terkecuali yang memiliki toko didalam area tersebut, mereka membuka toko dari pagi hingga malam hari.

Foto Ibu Mahmulah, pemilik Toko dan Warnet ELMA

      Dari salah satu pedagang di kota santri, yang biasa akrab disapa Ibu Mahmulah, 45tahun berasal dari daerah Janti Jogoroto Jombang, sudah berjualan di area tersebut selama 9 tahun. Beliau berjualan dari tahun 2008 hingga saat ini. Disitu, beliau memiliki toko dan dan warung internet (warnet) yang beliau beri nama Toko dan Warnet ELMA. Letak toko dan warnet tersebut berada didepan asrama 2 Al Khodijah. 
  Menurut beliau, kota santri letaknya sangat strategis karena berada ditengah-tengah pondok yang dikelilingi oleh banyaknya asrama dan suasananya ramai sekali ketika para santri  datang dari berbagai penjuru asrama untuk membeli dagangan dan online di warnet. Keadaan kota santri yang dulu dengan yang sekarang sangat berbeda. Dahulu, saat warnet dan toko buka dari jam 10.00 wib hingga 23.00 wib, sangatlah ramai yang berdatangan. Namun,  saat ini Toko dan warnetnya terkadang ramai,  terkadang juga sepi. Dikarenakan sudah banyaknya pedagang yang berjualan dan membuka warnet disekitar area tersebut. "walaupun disini ramai, tapi bukan berarti toko dan warnet saya selalu ramai. Karena, saat ini adanya persaingan dagang yang semakin ketat", ujarnya. (Bibil/FBS)

Benda Bersejarahku

Bonjour good readers, 
Happy new year 2018 for you all guys...
Nah, tahun baru kali ini kalian hang out kemana aja nih? Pasti seru banget. 
Tahun baru kali ini aku cuman di rumah aja, bersih-bersih rumah (siapa tahu jodoh dateng kerumah,  eehh). Nah, waktu aku bersihin kamarku, ngga tahunya aku nemuin sebuah buku diary. Yaa, ini buku diary ku yang udah lama banget ngga terjamah olehku sejak beberapa tahun yang lalu (udah lama banget men aku ngga jumpa nih buku diary).


  Nah, gambar diatas merupakan buku diary sewaktu aku mendapat hadiah ulangtahun. Hanya itu saja yang aku punya sekarang, karena buku diary yang lainnya aku sama sekali tidak tahu keberadaannya karena keteledoranku menaruhnya. Dengan adanya buku diary, aku bebas berekspresi dengan huruf abjad. Tidak ada batasan untuk aku membuat sebuah tulisan, dan itu juga butuh yang namanya sebuah "pembiasaan" dalam menulis. Tujuannya, agar menjadikan tulisan kita lebih baik dari yang sebelumnya. Walau sekarang tidak menulis di buku diary lagi, setidaknya masih ada blog ini yang menjadi wadah untuk menulis. 
     Seingatku, buku diary itu ketika aku kelas 5 SD. Sayangnya, dulu tulisannya banyak yang aku robek. So, hanya tinggal beberapa cerita aja yang masih tersimpan dengan bahasa yang bisa dibilang masih unyu-unyu banget kayak aku (ma'acih, eehh). Aku geli saat membacanya ulang. Ternyata seperti ini, seperti itu gaya menulisku dulu. Ya, bisa dibilang masih amburadul (wajar aja sih, tulisan anak yang masih bau jahe, eehh).  Ya, pokoknya lucu lah gaya penulisannya. 
   Aku mulai menulis sebenarnya sejak kelas 3 SD. Dulu setiap kali aku ulang tahun, mamaku selalu membelikan aku buku diary. Bentuknya pun lucu-lucu. Sejak saat itulah aku gemar menulis tentang kejadian-kejadian yang aku alami. 
       Lama kelamaan, aku jarang banget dan hampir ngga pernah lagi menulis di buku diary. Terakhir aku nulis di buku diary itu kelas 6 SD, kalau ngga ingat sih (ya lupa dong berarti, eehh). Karena dulu banyak faktor juga yang mengakibatkan aku tidak pernah lagi menulis. Mau tau? Mau tau? Idih kepo, haha, bejanda bejanda (eh ladalah, ngapain bawa bawa janda segala). Ya, pokoknya ada aja lah. Maaf ngga bisa menceritakan, ya. So, pada intinya aku ngga nulis sampai aku SMA. Lalu, setengah aktif nulis lagi ya waktu masuk dunia perkuliahan. Waktu itu aku sedikit tertuntut untuk ya minimal lah bisa menghasilkan sebuah tulisan (karena my pak Kaprodi said kalo ngga punya skill nulis, gimana kamu bisa nulis skripsi dengan baik dan benar). Jadi, waktu itu ada Mata Kuliah writing kan (writing tuh nulis), yang ngajar Mata Kuliahnya tuh Bu Endang. Yaps, jadi kami (anak prodi sastra inggris maksudnya) diajarin tentang tahap tahapnya menulis tuh bagaimana dan biar bisa membuat tulisan dengan susunan yang baik dan benar (thanks so so so much bu Endang). Alhamdulillah lumayan lah nilainya (lumayan jelek apa lumayan bagus nih?). Ya, lumayan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lah ya (ehh). Cukup tau lah dengan kemampuan yang belum begitu mahir mengenai tulis menulis. Pokoknya, apa yang ingin aku tulis ya aku tulis aja. Is it a simple way, right?
Sampai sekarang aku masih mencoba mencari benda bersejarahku, biar makin lengkap aja formasi buku diary nya. 

Asean Youth Interfaith Camp (AYIC) 2017 UNIPDU Jombang




Foto para peserta AYIC saat mengikuti acara pembukaan di Islamic Center (IC) 


Jombang - Asean Youth Interfaith Camp (AYIC) 2017 Unipdu Jombang merupakan sebuah program yang diadakan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) yang diberi mandat oleh negara ASEAN untuk memperingati hari ulang tahun ASEAN ke 50 tahun, yang bertemakan "Tolerance in Diversity for ASEAN and World Harmony". Acara tersebut dilaksanakan selama tiga hari, yakni pada tanggal 28-30 Oktober 2017. Bertepatan dengan itu, Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah dalam menyelenggarakan acara tersebut dengan menunjuk Kemenlu sebagai penanggung jawab program AYIC dan Kemenlu menunjuk kota Jombang dan Kampus Unipdu sebagai mitra kerja sama, sehingga ada tiga panitia penyelenggara, antara lain Kemenlu, Unipdu dan Pemkab Jombang. 
            Menurut Ahmad Sholeh Khadafi, selaku Laison Official (LO) AYIC mengatakan bahwa panitia dari Unipdu mengadakan pemilihan panitia LO yang bertugas sebagai tour guide (pendamping) para peserta AYIC selama program ini berlangsung. Peserta program AYIC tercatat dari 22 negara, sehingga bukan hanya dari negara ASEAN saja yang datang melainkan dari berbagai negara diluar ASEAN,  misalnya Hungari, Libya, Maroko, Inggris, Korea Selatan dan masih banyak lagi. 
      Pada hari pertama, acara dimulai dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Rangkaian acaranya meliputi seminar di Islamic Center (IC) dan melaksanakan welcoming dinner di Pendopo Jombang. Di hari kedua pun juga masih sama, saat pagi hari mereka mengikuti pelaksaan seminar lalu pada malam harinya para peserta AYIC melakukan culture performance, mereka menampilkan budaya negara mereka masing-masing yang bertempat di Pendopo Jombang. Kemudian, di hari ketiga, mereka melakukan field trip, berkeliling daerah Jombang dan sekitarnya.  "Mereka melakukan field trip ke Taman ASEAN untuk berfoto bersama maupun swafoto. Lalu, dilanjutkan mengunjungi patung Budha yang ada di wilayah Mojokerto. Kemudian, berlanjut lagi ke Gereje Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno dan berlanjut lagi ke Desa Ngepeh untuk melihat adanya tiga agama yang memiliki tiga tempat peribadatan di satu tempat yang sama dan berdekatan. Setelah itu, berlanjut ke Klenteng, ke Manik-manik untuk membeli oleh-oleh, ke Makam Gus Dur dan selesai", ujar Ahmad Sholeh Khadafi. (Bibil/FBS).

Sabtu, 30 Desember 2017

Malam Minggu Ku Bukan Balon Warna Kelabu

Malam minggu ku kali ini ngga perlu jauh-jauh, ngga perlu mengeluarkan biaya terlalu banyak, cukup gelar tikar depan rumah dengan lampu sedikit remang-remang (eh jangan ngeres ya pikirannya), terus sediain beberapa camilan and Boom! Pastinya ngga kalah seru dengan mereka yang lagi malam mingguan di luar sana. Jadi, malam ini aku malam mingguannya dengan mama dan kedua adikku saja. (terus ayahmu kemana?) ayahku lagi asyik dengan dunianya sendiri, (lah ngapain jadi nanyain ayahku ya?). Jreng jreng.. Lanjuut...
Disini, kami berempat akan bermain kurang lebihnya seperti sedang melakukan siaran radio di malam minggu. Kami bersuit untuk mendapatkan peran siapa yang berperan sebagai penyiar radio, rekan dari penyiar,  si penelepon, dan penyanyi. Yaps, akhirnya aku sebagai penyiarnya dan adik Michael sebagai partnerku. Sedangkan mama sebagai si penelepon, dan adik Levy sebagai penyanyinya.

Aku: "yaaa, selamat malam para single, para jomblowan jomblowati dan seluruh keluarga yang ada di rumah, jumpa lagi dengan suara saya di 1234.fm. Ok, untuk malam ini yang mau request lagu, salam-salam ke sanak saudara, anak, suami atau istri, atau tetangganya juga boleh. Mau curhat pun bodo amat dah. Langsung aja telepon di nomer yang sedang anda tuju atau terserah kalian dah kalian suka nomer berapa, langsung pencet aja. Terserah nomer berapapun yang kalian mau, pencet aja langsung, aku mah gitu orangnya."

Mama : (kriiing.. Kriiing... Tulalit.. Tulalit)

Aku:"yaa,  oke sudah ada nomer penelepon yang masuk. Halo, dengan siapa dan dimana? Status jomblo atau gimana? Dijawab boleh, ngga dijawab juga terserah".

Mama:"iya halo mbak, saya dengan Bu Nas. Em, ngga pake huruf D ya mbak. Alhamdulillah beberapa puluh tahun yang lalu saya pernah single mbak, cuma sekarang sudah laku lah mbak."

Aku:"Oh, ok dengan Bun(d)as. Eh iya Bu Nas, malam ini mau request lagu apa nih? Atau salam salam buat keluarga yang sedang jauh, atau gimana?"

Mama:"iya saya mau request lagunya Raisa yang Ex-beauty ya? Ada kan? Ya harus ada lah. Saya maksa kok."

Aku:"bentar bu bentar, ex-beauty ya? Disini adanya mantan terindah bu,  ngga ada lagunya Raisa yang judul lagunya tuh ex-beauty.  Ibu salah mungkin".

Mama:"sekarang saya nanya, ex itu artinya apa mbak?".

Aku:" ex artinya mantan bu".

Mama:"trus beauty artinya?".

Aku:"beauty artinya cantik, indah".

Mama:"so, ex-beauty artinya?".

Aku:"mantan terindah, bu".

Mama:"nah itu ada kan, gitu tadi bilangnya ngga ada".

Aku:"(yiah, the power of emak-emak. Jebreeeett). Ya, baiklah bu, saya akan putarkan lagu ex-beauty untuk bu Nas. Ok langsung saja kita puter lagunya, Raisa-mantan terindah".

Aku:"yaaa, Raisa dengan lagu mantan terindah sudah kami puterin. So, ".

Levy:"lah, saya kan belum nyanyi mbak,  kok main udahan?".

Aku:"bodo amat. Pokok udah selesai. Nanti kamu saya kasih, kasih apa ya? Aku kasih ucapan terimakasih aja yups. Jarang-jarang lho dapat ucapan terimakasih dari saya".

Levy:"yaelah mbak, makasih banyak lho ya,  tau gitu saya jadi tukang sapu studio aja."

Aku:"ha?"
.
.
.
To be continue.. (beberapa tahun lagi)
**

Yaps, segitu dulu ceritanya. Ngga enak kalo ceritanya kepanjangan, Hehe (adminnya udah ngantuk, say). 
See ya..

Kamis, 28 Desember 2017

Sang "Super hero" Sejati

Contoh Feature
Tugas Journalism



Bibil dan Mama 

Sang "Super hero" Sejati 

           Wanita cantik berkerudung kuning, berkacamata, memiliki pipi tembam dan berkulit putih tersebut adalah salah satu figur super hero di dalam rumah, yang biasa dipanggil dengan sebutan ibu.
            Wanita kelahiran Surabaya pada tanggal 05 Agustus 1970 ini memiliki nama lengkap Ire Risahani. Anak dari Indiasmadji Soewito dan Nanik Suharni. Beliau merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga saudaranya adalah perempuan. Sejak kecil hingga SMP, beliau tinggal bersama orangtuanya di Surabaya yang kemudian pindah ke daerah Branjang Jogoroto. Sedangkan, pada waktu SMA, kerja hingga menjelang beliau menikah, beliau tinggal bersama dengan nenek dan kakeknya yang ada di Jombang. Saat tinggal bersama nenek dan kakeknya, beliau menjadi anak perempuan satu-satunya dirumah itu dari ke empat anak laki-laki nenek dan kakeknya. Lalu, saat setelah menikah, beliau dan suaminya tinggal di daerah Peterongan, yakni di daerah Pagotan Keplaksari.
Beliau memiliki tiga orang anak, satu orang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki, yakni Nora Izza nabila (Mahasiswi Unipdu), Levy Raihan Rafly (siswa MAN Rejoso Darul Ulum Jombang), dan Michael Hillan Adam (siswa MI Al-hidayah Pagotan). Suaminya bernama Mohammad Abdul Nasir, yang bekerja sebagai pegawai di Unipdu Jombang.
           Beliau memiliki kepribadian yang lembut tapi tegas, suka humor, menjadi seorang pendengar yang baik, namun tidak suka kepo (Knowing Every Particular Object) atau suka ingin tahu terhadap masalah orang lain. Beliau juga pendiam dan mudah sekali baper atau terbawa perasaan oleh suatu hal. Meskipun begitu, beliau adalah tipe seorang ibu yang supel.
            Beliau menempuh pendidikan SD di SDN Impres Surabaya dan lulus SD pada tahun 1982. Lalu, melanjutkan tingkat sekolah menengah pertama (SMP) di SMP PGRI Mojoagung dan lulus pada tahun 1985. Kemudian, melanjutkan tingkat sekolah menengah atas (SMA) di SMA PGRI Mojoagung dan lulus pada tahun 1988.  Beliau memiliki pengalaman kerja dari tahun 1988-1997 sebagai pegawai perpustakaan di SMA Negeri Kesamben, yang kebetulan Kepala sekolahnya adalah Kakeknya sendiri. Hingga pada akhirnya beliau menjadi pegawai tetap di instansi tersebut selama kurang lebih 10 tahun. Selama bekerja, beliau juga  mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, yakni D1 Perpustakaan dan kemudian melanjutkan D2 Perpustakaan yang sama-sama berada di Surabaya. Namun, saat setelah menikah, beliau berhenti dari instansi tersebut karena tidak mendapat restu untuk bekerja dari suaminya.
             Wanita yang sekarang hanya menjabat sebagai ibu rumah tangga ini begitu memiliki segudang prestasi yang pernah beliau raih. Sewaktu SD, beliau mendapat peringkat 1 selama 6 tahun berturut-turut. Kemudian semasa SMP mendapatkan piagam, beberapa alat-alat tulis dan sejumlah uang atas peringkat 1 selama 3tahun berturut-turut dan semasa SMA pun mendapatkan peringkat 1 hingga lulus. Bukan hanya mendapatkan prestasi di bidang akademik saja, melainkan mendapat prestasi non-akademik juga, seperti mendapat juara 1 lomba menyanyi tingkat SD di Surabaya. Beliau menjuarainya selama 3 tahun berturut-tururt, mulai dari kelas 3 SD sampai 6 SD. Kemudian, lomba Qari' dan tartil tingkat SMP. Beliau mendapat juara 3 selama tiga tahun berturut-turut. Lalu, semasa SMA, beliau mengikuti lomba menyanyi antar SMA tingkat se-kecamatan Mojoagung dan mendapatkan juara 1. Pada waktu beliau menjadi seorang pegawai di SMA Negeri Kesamben, beliau juga mengikuti lomba menyanyi antar pegawai mewakili instansinya, dan beliau pun mendapatkan juara 1.
             Adapun hobi yang beliau miliki adalah tentu saja menyanyi, melakukan perawatan tubuh sendiri di rumah secara alami, mendengarkan musik, membaca novel, dan menonton film horor dan film drama Asia, meliputi film Korea maupun China. (Bibil/FBS)

Minggu, 24 Desember 2017

Aku bahagia karena mereka

Foto saat merayakan ulang tahun Michael, adikku, 12 Desember 2017

"Malam ini ku sendiri, tak ada yang menemani.. Syalalala" (terusin sendiri ya nyanyinya).
Malam ini aku sendirian (ngetiknya). Aku bingung mau nulis tentang apa. Tapi, aku ada sedikit cerita tentang anak-anak didikku. Ada apakah gerangan? Hayuk, baca ceritanya.
**


Ba'da magrib..

Satu persatu anak-anak les masuk ke dalam ruangan. Mereka duduk dengan rapi dan berdoa pun dimulai. Setelah berdoa, Aku dan mama membagi tugas untuk mengajari mereka belajar. Aku mengajari anak tingkat MI kelas 3 dan 6 serta anak tingkat SMP. Lalu, mamaku mengajari anak tingkat MI kelas 2 dan 4.

Hari itu benar-benar hari yang cukup melelahkan buatku, terutama hatiku. Menghadapi mereka, membuat kesabaranku harus ditingkatkan lagi. Nay dan Liza, dua murid yang amat sangat berbeda kepribadiannya. Ditambah lagi dengan Gilang (aku seterong kok). Ketiga anak inilah yang membuatku kuat lahir batin (alay, haha).
Saat mengerjakan tugas dari sekolah, Nay merasa ogah-ogahan mengerjakannya, karena yang dikerjakan adalah tugas matematika (berjuanglah nak).
"besok ada tugas ngga nih? ", tanyaku.
"ada Mbak, matematika. Ah, Aku malas ngerjainnya", ujar Nay.
"kok gitu? "
"habisnya, PRnya banyak. Aku malas menghitungnya", ucap Nay.
"kalau Liza, gimana? Sudah selesai atau belum PRnya?", tanyaku melirik Liza.
"iya itu matematika mbak. Aku sudah kok. Ini dia", sahutnya sambil menyodorkan buku tugasnya.
Aku mengoreksi tugas Liza. Ada beberapa yang salah dan aku harus mengajarinya untuk menghitungnya kembali. Nay yang sedari tadi memperhatikanku dengan Liza, raut wajahnya mulai berbeda. Ada perasaan iri yang terpancar diwajahnya. Aku melirik dan mengajaknya untuk menyelesaikan tugas bersama-sama. Namun dia tetap tidak mau.
"kamu kenapa sayang? Ayo dikerjain bareng bareng sama Liza", ajakku. Namun, Nay tidak memperhatikanku. Tak lama kemudian, dia meledek aku dan Liza.
"Ciye, mbak Bella sama Liza berduaan", pungkasnya dengan senyum kecut.
"Oh Tuhan, kenapa lagi anak ini?", gumamku dalam hati.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga tugas hari ini. Ayo Nay kerjakan tugasmu sekarang. Liza sudah selesai lho," ajakku sedikit memaksa.
"ah ngga mau, aku ngga mood ngerjainnya, mbak.. Nanti saja aku kerjakan dirumah," dengan nada sedikit marah.
"hhm, ya sudah kalau tidak mau mengerjakan. Tapi janji ya, dikerjakan dirumah. Mbak ngga mau kalo salah satu dari kalian dapat hukuman dari bu guru karena ada yang tidak mengerjakan PR. Terus kalian nyalahin mbak gitu aja.  Mbak ngga mau kalian seperti itu, karena mbak sudah nyuruh kalian untuk mengerjakannya dan kalian malah seperti ini. Paham?," ucapku sedikit tegas.
"hhm", jawab Nay.

Berbeda lagi dengan Gilang. Gilang merupakan anak yang menurutku amat sangat slow (kepribadiannya). Setiap kali pelajaran dimulai, dia melakukan sesi curhat terlebih dahulu (mama dan aa'; curhat dong. Eeaakk). Dia curhat kurang lebih setengah jam. Aku hanya bisa mendengarkan dan menjawab antara jawab iya atau oh begitu?, karena aku pun bingung harus menjawab apa. Terkadang, Aku menjadi orang yang serba salah di dunia ini. Kenapa? Setiap kali aku mengajari mereka, pasti ada yang  menginginkan perhatianku harus tertuju pada salah satu dari mereka, dan akhirnya menyebabkan iri dalam diri mereka. Serba salah kan jadinya (Raisa banget kan?),  padahal semuanya aku perhatiin lho. Aku kan memang tipe orang yang perhatian (eehh). Ya, walaupun begitu, aku harus tetap profesional dan tidak boleh pilih kasih terhadap mereka. Awalnya memang terasa berat, karena disini aku harus dihadapkan dengan berbagai karakter masing-masing anak. Rasa-rasanya aku ingin marah, aku ingin menangis. Tetapi, berkat mama yang selalu memberiku nasihat untuk tetap selalu sabar dalam menghadapi anak-anak, lambat laun aku pun terbiasa dengan itu.

Tidak hanya ketiga anak diatas yg ku sebutkan tadi, tapi masih banyak lagi karakter-karakter anak-anak didikku yang menggelitik hati. Diantaranya, Rofi, dia adalah murid kelas 3 MI yang selalu berangkat les lebih awal dibanding teman-temannya, dan pada akhirnya dia tidur di dalam ruangan sambil menunggu yang lain datang (sungguh luar biasa kau nak). Beberapa menit kemudian, anak-anak yang lain berdatangan dan mulai menjahili Rofi. Rofi terbangun dan kurasa belum benar-benar terbangun, dia keluar ruangan dan pulang tanpa membawa tas.
"lah, Rofi mau kemana?", teriakku. Dia menghiraukan teriakanku dan nyelonong pergi. Akhirnya kami semua belajar tanpa Rofi. Bisa dibilang hampir setiap hari dia seperti itu. Selang beberapa menit, Rofi kembali keruangan.
"Assalamualaikum..", ucapnya.
"Waalaikumsalam. Darimana kamu tadi?", tanyaku.
"anu.. Mbak.  Aku tadi pulang ngelanjutin tidur sebentar terus balik lagi kesini", jawabnya dengan polos. Semua yang ada diruangan menertawakannya.
Belum lagi ada yang selalu menggombaliku di tiap jam belajar. Tak lain dan tak bukan adalah Jinun, Rizal, Bagus dan Farid. Mereka berempat merupakan murid kelas 6 MI. Dan beberapa diantara anak yang pendiam adalah Dani, Naufal, Fachri dan Andre. Ada satu lagi, Sandi, dia murid kelas 2 SMP. Sandi sama halnya dengan yang lain, dia juga aktif dalam segala hal.  Sebagian besar mereka adalah murid di sekolah alumniku dulu, yakni MI Al Hidayah Pagotan. Bagiku, bagaimanapun karakternya, mereka semua merupakan anak-anak yang cerdas, aktif dan disiplin.


Bagaimana? begitu beraneka ragam, bukan?. Melihat kepolosan mereka, melihat canda tawa mereka, disitulah aku menemukan kebahagiaanku saat bersama-sama dengan  mereka. 

Kamis, 21 Desember 2017

Andai takdir dapat bertukar tempat

        Ya allah, tantangan apa lagi yang Kau hadapkan padaku kali ini? Sejujurnya aku bersyukur, namun tiadakah kau lihat aku? Aku hanya gadis yang rapuh. Amat sangat rapuh. Tiada lagi yang bisa ku ucapkan selain kalimat "aku pasrahkan semua ini padaMu."
   Mereka yang diluar sana seakan melihatku bergelimangan dengan kebahagiaan. Justru, aku merasakan sebaliknya. Mereka hanya bisa menjudge seseorang sedemikian rupa. Mereka hanya berpikir bahwa semua hanya skenario.         Andai takdir bisa ditukar. Apa mereka ingin dan sanggup menjadi Aku untuk sementara waktu? Aku rasa TIDAK! Ya, Aku rasa memang TIDAK! 
           Aku tahu bahwa mereka tidak pernah merasakan hal yang serupa dengan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Ya, aku tahu, karena ujian seseorang itu pasti berbeda-beda. Aku sudah tahu!. 
Merasa kesal? Merasa lelah? Pasti. Tetapi, apa yang bisa aku lakukan selain berdoa dan tetap berusaha, serta berpikiran positif terhadap semua ini? 

" Ya Allah, bolehkan kalau aku berteriak dan mengatakan bahwa aku membenci diriku untuk kali ini saja? "

         Aah, sudahlah. Terserah saja sekarang, lakukan sesukamu wahai para hati diluar sana yang sedang berprasangka.

Rabu, 11 Oktober 2017

The Fall of an Angel (without wings)



Like an angel that fell from the sky, I fell beautifully without wings (because I’m a human not an angel, right? So, it is so painful when I’m fall down). This incident is a shameful thing for me. It is the first time I slip that causes pain for days. The pain of slipping is more painful than the pain of a broken heart (don’t baper*, please!).
At first, when I was done showering, I wanted to take my towel on a hanger. When I picked it up, I suddenly slip and fell down hard. The bathroom floor was slippery. I felt dizzy and confused, as I shocked because of it. “oh oh, this is so wonderful”, I said to myself. I’m grateful that I fell in a sitting position, because there’s a bathtub that  I can hold when I’m going to fall back on my back. So,all of my body felt so painful, especially my waist, hips and legs. It can’t be bent. It is very torture. The pain was getting worse. I tried to raise my body and wear my clothes then I came out of the bathroom.
At night, my body has a fever because of the pain that I felt. I could only cry. My waist, hips and legs stiffened if I moved them. My mom massaged me until I fell asleep. She did it everyday.Almost everyday, I woked up at midnight. Because my waist was so painful. I couldn’t fall asleep. But my mom is still taking care of me until I get better.
When I checked to the doctor, I thought I would be given some brands of medicine. But, the doctor only gave me one brand of it, namely YEKAPONS Mefenamic Acid 500mg.
“oh my God, just it?”, I said to myself.
“this medicine is taken three times a day after meals”, said the doctor.
“yes, Doc. Emm, would you mind to give me a medical letter”, asked me.
“ok,  I will give you three days to rest. Get well soon, Bill”, she replied.
“thank you, Doc”, I replied. A few days after I got the medicine as recommended, my waist, hips and legs is slightly improved and I could reactivity as usual.

*baper (bring the feeling of intention) : it’s when someone witness or hear a thing then his/her feelings get carried away will be things witnessed or heard.

Dark


I look myself in the mirror
There's nothing could be seen
I can't see my own reflection 
Just look the darkness
There's no definite directions

I feel scared
I wanna screamed out
Can't say anything
No bodies can save me
Drownin' in the dark

Harapan Bintang


Tidak disangka-sangka jika hari yang begitu cerah akan turun hujan begitu derasnya. Aku tak berbekal apapun dari rumah. Hanya berbekal tas yang berisi Handphone, powerbank dan earphone serta  sneakers  kumel yang selalu menemani langkahku kemanapun aku pergi. Aku melihat jam  ditangan kiriku, ternyata sudah menunjukkan pukul setengah enam malam. Aku masih terduduk manis di bangku warung depan kampusku. Menunggu jemputan yang dari tadi tak kunjung terlihat. Aku merasa hari ini adalah hari yang terburuk dalam sejarah hidupku. Ini adalah pertama kalinya aku diberi cuaca palsu oleh Bumi, setengah jam  menunggu dengan rasa kedinginan karena hembusan angin yang begitu kencang, handphone lowbatt dan sendirian di depan warung yang tutup. Tak lama kemudian  sebuah mobil menepi di depan warung. Kakakku turun dari mobil dengan membawakan payung untukku.
”Bi, maafin kakak ya. Kakak terlambat jemput kamu.” Kak Bima meraih tanganku.
“iya kak gapapa.” Jawabku sambil masuk kedalam mobil.
            Bintang. Itulah namaku. Kakak-kakak dan teman-temanku lebih senang memanggilku dengan sebutan “Bi”. Aku memiliki dua orang kakak laki-laki. Billy adalah kakak pertamaku dan Bima adalah kakak keduaku. Kami bertiga memiliki nama depan yang sama, yakni  berawalan huruf B. Bukan berarti kami adalah anak kembar. Umur kami hanya selisih dua tahun. Kak Billy adalah seorang manager di sebuah perusahaan. Kak Bima adalah seorang mahasiswa yang sedang menempuh semester akhir sedangkan aku masih menempuh semester 4. Aku dan Kak Bima tidak kuliah di universitas yang sama. Kami tinggal bertiga dengan ditemani seorang pembantu sekaligus pengasuh yang sedari kecil sudah menjadi pengasuhku dirumah. Papa dan mama sudah lama berpisah. Diantara kami bertiga, tidak ada seorang pun yang ikut dengan mama ataupun papa. Melainkan kami tinggal di rumah yang kak Billy beli waktu itu. Sekarang, Kak Billy adalah kepala keluarga kami. Mama dan papa sibuk dengan urusan masing-masing. Maka dari itu, aku sejak kecil sudah dibawah asuhan pengasuh dan kedua kakakku. 
Seperti biasanya, kak Bima senang sekali mengejutkanku ketika aku sedang melamun. 
“Bi” dengan menepuk pundakku. “kamu kenapa sayang? Murung gitu mukanya? Kamu galau? Atau kamu habis diputusin pacar? hehe” goda kak Bima.
Aku menoleh ke arah kak Bima, “kakak apa’an sih? Selalu deh. Ngga kenapa-kenapa kok. Hm, Kak, makan dulu yuk. Laper nih.” Aku mengalihkan pembicaraan.
“hmm, tuh kan mengalihkan pembicaraan. Yasudah, kita makan. Kakak juga laper. Kita ke tempat makan biasanya aja ya.” Kak Bima menawarkan.
“hm, iya deh.” Aku mengiyakan.
         Disepanjang perjalanan, aku hanya melamun, melamun dan melamun. Ketika berhenti di depan lampu merah, aku melihat seorang bapak tua dengan menggunakan plastik sebagai tudung kepala sedang menggandeng anak perempuannya dibawah derasnya hujan menjajakan dagangannya kepada setiap pengendara. Aku tertegun melihatnya. Aku iri dengan anak perempuan itu. Aku disini tumbuh hanya dengan kedua kakakku dan pengasuhku tanpa adanya mama dan papa disisiku. Papa dan mama tak pernah menjengukku. Hanya sekedar menanyakan kabar lewat telepon Kak Billy.
“beruntung banget ya gadis kecil itu. Masih bisa kumpul dengan keluarganya, walaupun hanya dengan seorang ayah saja.” aku bergumam dan menyeka  airmata yang mengalir di pipi.
“Bi, kamu gapapa kan?” kakak mengejutkanku lagi.
Aku menoleh ke arah kakakku dengan air mata yang masih membekas di pipi, “hm, gapapa kok kak. Kak, udah lampu hijau tuh”, aku menyongsongkan senyum dihadapan kakakku. Kak Bima segera melajukan mobilnya.
“Dik, kamu kenapa? Cerita dong ke kakak. Tumben banget kamu seperti ini. Ngga biasanya lho kamu begini. Ada apa? Hm?”. Kak Bima masih terus saja ingin tahu.
“Nah itu warungnya. Cepetan minggir kak, aku udah laper banget nih.” Aku benar-benar tidak ingin menjawab pertanyaan kakakku.
“maafin Bintang ya kak”, Gumamku dalam hati.
           Aku adalah tipe orang yang tidak begitu terbuka tentang masalah apapun. Hanya saja jika dalam keadaan terdesak dan aku tidak sanggup menyelesaikannya, barulah aku meminta pendapat kakakku agar permasalahannya cepat terselesaikan. Aku hanya tidak ingin menjadi beban bagi mereka semua selagi aku masih bisa menyelesaikannya sendiri.
“yeay, makan makan.” Ucapku. Aku lega sekali akhirnya berada di warung makan. Sudah  sedari tadi perutku meronta-ronta  karena kelaparan.
Akhirnya kita masuk dan mengambil tempat duduk. Aku melihat-lihat sekitarku.
“ramai sekali hari ini”, gumamku.
“eh iya, kakak yang traktir ya? Hehe” godaku.
“idih, lagaknya. Emangnya kamu pernah nraktir kakak?. Kan emang kakak yang selalu nraktir kamu, dik. Haha. Yaudah kakak pesan makanan dulu ya”, sambil mencubit pipiku.
“kakak ih, sakit tau”, jawabku sambil mengelus pipiku yang sakit. 
        Walaupun aku sudah dewasa begini, tapi kak Bima selalu saja menganggapku masih seperti anak kecil. Karena kak Bima tidak mau adik kecilnya berubah karena merasa sudah dewasa. Dia ingin kita bertiga selalu memiliki rasa sayang yang tidak akan pernah pudar sampai kapanpun walau usia masing-masing sudah tidak muda lagi. Itulah yang membuat aku semakin sayang terhadap kakak-kakakku. Mereka adalah pelindungku.
Setelah memesan makanan, lagi-lagi kakak masih kepo dengan persoalan yang tadi.
“dik, kamu kenapa sih tadi? Cerita dong. Kakak janji deh ngga bakal bilang sama siapapun. Janji jari kelingking”, kakak meyodorkan jari kelingkingnya.
“kakakku yang ganteng, yang baik hati dan tidak sombong. Bintang ngga kenapa-kenapa kok. Kakak kepo ih” sambil tersenyum berusaha menyembunyikan kesedihan yang ada dan melakukan janji jari kelingking.
“Bintang ngga seru ah. Kakak tau kalau kamu lagi bohong sama kakak. Bete ah sama Bintang”, kak Bima memalingkan muka.
“yaelah, kakak dikit-dikit mah ngambek. Gini lho kak, Bintang lagi kangen aja sama kalian berdua. Bintang ingin quality time yang pernah kita buat dulu tuh terlaksana lagi. Tapi, malah cuma kita berdua aja yang masih menyempatkannya.” 
“sayang, dengerin kakak ya. Bukan karena kak Billy ngga mau meyempatkan waktunya untuk kita, hanya saja mungkin pekerjaan kak Billy sedang menumpuk. Kak Billy kerja kan buat kita juga. Iya kan? Yang penting, kakak masih selalu nyempetin waktu buat adik kecil kakak yang ngegemesin ini nih. Hehe”.
“hm, iya deh iya”, aku memasang muka murung.
“udah dong, jangan murung gitu. Pasti ada saat-saat yang indah untuk kita kumpul lagi seperti dulu. Bintang yang sabar ya,” sambil memelukku dari samping.
Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Kami berdua makan dengan lahapnya sambil mengenang masa-masa indah kita bertiga dulu. Setelah puas makan dan bercengkrama, kami bergegas pulang.
       Sesampainya dirumah, aku terkejut bukan kepalang. Orang yang sedari tadi kita gosipkan di warung makan ternyata sudah sedari tadi menunggu kepulangan kita berdua.
“kakak !”, teriakku dan akupun langsung berlari memeluk kak Billy. 
“kakak kapan datang? Kok ngga ngasih tau? Bintang kangen banget”, aku memeluk kak Billy erat-erat.
“hm, adik kecil kesayangan kakak yang satu ini ternyata punya rasa kangen juga ya? Kirain cuma kangen ke pacarnya doang", godanya. 
“kakak sebenernya sudah pulang dari siang tadi. Kakak sengaja ngga ngasih tau kalian. Karena kalian pasti masih bersenang-senang diluar,” kakak memeluk dan mencium keningku. 
“kakak jahat ih”, jawabku sewot. 
“kok marah? Yaudah sini. Kakak juga kangen banget sama kalian”, kak Billy memeluk aku dan kak Bima.
“oh iya, apa kakak bawa oleh-oleh untuk kita?”, tanyaku.
“bawa kok. Coba aja lihat di meja makan.” Aku langsung berlari menuju meja makan.
             Aku tidak menyangka. Kakak membawakan makanan favoritku. Aku langsung kembali ke ruang keluarga. Kak Billy, kak Bima dan pengasuhku ternyata diam-diam sudah menyiapkan kejutan istimewa buatku. Mereka memberiku kejutan kue ulang tahun dan beberapa hadiah istimewa untukku. Ingin menangis rasanya. Aku benar-benar tidak menyangka kalau kakak-kakakku dan pengasuhku masih ingat dengan hari ulang tahunku. 
“oh my God”. Aku pun menangis dengan penuh rasa bahagia.
“make a wish dong sebelum tiup lilinnya”, pinta kak Billy.
Aku memejamkan mata untuk meminta beberapa permohonan atas usiaku sekarang ini. 
“ungkapin dong dik doa-doanya, kita kan pengen tau”, ucap kak Bima.
“kakak kepo ih”, ucapku sambil ku julurkan lidah. Aku melanjutkan permohonanku.
Harapanku di hari ulang tahun sekarang ini adalah aku bisa berkumpul lagi dengan keluargaku yang utuh. Aku benar-benar merindukan mereka. Semoga kakak-kakak dan bibikku selalu diberi kesehatan untuk selalu ada bersamaku di setiap waktu dan diberi kelancaran atas apapun yang mereka lakukan. Amiin.
“yuk, tiup lilinnya, keburu lilinnya abis lho”, kak Bima menggodaku. Ku tiup lilin-lilin yang hampir habis itu dan memeluk mereka dengan berlinangan airmata bahagia.
“kak, bik,  terima kasih untuk semuanya ya. Makasih udah mau ngerawat Bintang, udah susah payah biayain Bintang. Bintang janji ngga bakal ngecewain kalian. Bintang sayang sama kalian semua.”
“kita semua juga sayang sama non Bintang, betul kan Den?” bibik memelukku dengan erat.
          Hari ini merupakan hari yang sangat bahagia bagiku, sebenarnya. Tapi, kebahagiaan itu kurang lengkap tanpa adanya mama dan papa disini. Mereka sama sekali tidak memberiku ucapan selamat, atau mereka memang lupa dengan hari ulang tahunku. Ataukah memang mereka sudah tidak peduli lagi denganku. Tak ada kabar apapun tentang mereka.
“oh God, thanks a lot for today. But where are them? I miss you so much mom, dad. Apakah kalian tidak merindukan aku? Ma, Pa, pulanglah”. Aku menangis dalam dekapan malam yang sunyi sembari melihat bintang-bintang diangkasa, berharap Tuhan akan mengabulkan semua doa yang telah aku panjatkan.
***

My First Assignment of Journalism Lesson

OSCAR (Orientasi Studi Cinta Almamater) 2017 di Kampus Cinta             Jombang – Kegiatan Orientasi Studi Cinta Almamater (OSCAR) Uni...